Cek tab Likes untuk melihat Daftar Isi Cerita
Follow akun Trakteer kami untuk mendapatkan update terbaru lebih awal
http://trakteer.id/BlackBoxID
Anjir bagaimana ini?
Perlahan, amat sangat perlahan, aku pun memutuskan untuk menarik keluar penisku dengan perasaan - yang ahhh! Sulit, amat sangat sulit untuk ku jelaskan lagi pada kalian, kawan.
Sekali lagi, maafkan suami mu ini.
Sekali lagi, maafkan suami mu ini.
Beres….
Kini, aku pun telah pergi meninggalkan rumah dengan di iringi doa dan lambaian tangan istriku.
Beres….
Kini, aku pun telah pergi meninggalkan rumah dengan di iringi doa dan lambaian tangan istriku.
“Wa’alaikumsalam, hati-hati ayah.”
“Iya sayang”
“Wa’alaikumsalam, hati-hati ayah.”
“Iya sayang”
“Hehe sabar bun. Kan lagian, ada Azizah juga yang nemenin” balasku padanya.
“Ya udah deh”
“Hehe sabar bun. Kan lagian, ada Azizah juga yang nemenin” balasku padanya.
“Ya udah deh”
“Fiuhh, baru juga datang, udah harus pergi lagi” gerutu istriku. Aku pun mengusap lembut pipinya, dan meminta maaf sedalam-dalamnya dalam hati ini, jika dengan tega membohonginya.
“Fiuhh, baru juga datang, udah harus pergi lagi” gerutu istriku. Aku pun mengusap lembut pipinya, dan meminta maaf sedalam-dalamnya dalam hati ini, jika dengan tega membohonginya.
“Rencana emangnya mau kemana- mana aja, yah?” tanya istriku.
“Rencana emangnya mau kemana- mana aja, yah?” tanya istriku.
“Bun…. ayah harus berangkat sekarang!” begitu ujarku, bukan karena apa - aku tak ingin melihat Azizah yang sepertinya juga masih berada di kamar.
“Bun…. ayah harus berangkat sekarang!” begitu ujarku, bukan karena apa - aku tak ingin melihat Azizah yang sepertinya juga masih berada di kamar.
Yah, inilah keputusanku saat ini. Sejak semalam aku tak bisa di buat tidur nyenyak karena berbagai pikiran-pikiran menyeramkan yang menguasai otak ini,
Yah, inilah keputusanku saat ini. Sejak semalam aku tak bisa di buat tidur nyenyak karena berbagai pikiran-pikiran menyeramkan yang menguasai otak ini,
Selesai sholat subuh berjamaah dengan istriku di kamar atas, yang juga sebelumnya, ia sendiri yang membangunkanku - masih pagi-pagi buta aku bercerita pada istriku - lebih ke kebohongan sih - jika aku harus ke kantor pagi-pagi sekali karena harus keluar kota sepagi ini,
Selesai sholat subuh berjamaah dengan istriku di kamar atas, yang juga sebelumnya, ia sendiri yang membangunkanku - masih pagi-pagi buta aku bercerita pada istriku - lebih ke kebohongan sih - jika aku harus ke kantor pagi-pagi sekali karena harus keluar kota sepagi ini,
Aku kembali mengerang penuh keputus-asaan.
Karena rasa sakit kepala ini menyiksa, maka ku putuskan untuk segera ke kamar mandi untuk membasuh kepala dan tubuhku, biar bisa sedikit rileks, biar bisa sedikit tenang.
Aku kembali mengerang penuh keputus-asaan.
Karena rasa sakit kepala ini menyiksa, maka ku putuskan untuk segera ke kamar mandi untuk membasuh kepala dan tubuhku, biar bisa sedikit rileks, biar bisa sedikit tenang.
Nasi sudah membubur.
Penisku pun sudah masuk dan melesak beberapa kali di liang vagina adik iparku. Aku juga sudah menikmati setiap inci tubuhnya dengan penuh kesadaran. Kalo sudah begitu, apakah pantas aku bertemu muka dengannya lagi?
Nasi sudah membubur.
Penisku pun sudah masuk dan melesak beberapa kali di liang vagina adik iparku. Aku juga sudah menikmati setiap inci tubuhnya dengan penuh kesadaran. Kalo sudah begitu, apakah pantas aku bertemu muka dengannya lagi?
Bajingan….
Yah! Aku memang laki-laki bajingan yang telah menodai kehormatan adik iparku.
Bajingan….
Yah! Aku memang laki-laki bajingan yang telah menodai kehormatan adik iparku.
Aku benar-benar sangat menyesal.
Aku benar-benar sangat menyesal.